Breaking News

Begini Bedanya SPP Jalur Mandiri dengan Reguler di Unsyiah

Begini Bedanya SPP Jalur Mandiri dengan Reguler di Unsyiah
Foto MODUSACEH.CO/Rahma Yanti
Penulis
Sumber
Reporter Banda Aceh 02

Banda Aceh | Berdasarkan web portal data Universitas Syiah Kuala Tahun akademik 2017/2018, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) telah mengumumkan jumlah peminat hasil seleksi penerimaan mahasiswa baru. Baik jalur regular maupun jalur mandiri. Nah, untuk jalur reguler dari jumlah fakultas dan jurusan yang ada di Unsyiah, jumlah peminat mencapai 66.516 orang sedangkan yang lulus hanya mencapai 33 ribu orang lebih. Begitu juga dengan jumlah peminat yang ikut seleksi jalur mandiri, sebanyak 9.699 orang yang lulus hanya 1000 lebih orang.

Peserta yang telah diumumkan lulus itu, bila ingin melanjutkan kuliah, baik calon mahasiswa jalur regular maupun jalur mandiri yang dinyatakan lulus, harus membayar uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP). Jalur regular untuk Prodi Akuntansi misalnya, biaya terendah jalur regular Rp 500 ribu, sedangkan biaya SPP tertinggi jalur dan prodi yang sama Rp 3.5 juta sampai Rp 8 juta. Meskipun lulus jalur yang sama-regular, namun SPP setiap prodi juga beda. Prodi dokter gigi misalnya, jalur regular terendah Rp 500 ribu dan yang tertinggi Rp 4,6 juta lebih bahkan sampai Rp 21 juta.

Sementara itu untuk mahasiswa yang lulus jalur mandiri justru lebih mahal lagi. Misal fakultas dan prodi yang sama di Unsyiah, yaitu Akuntansi, SPP per semester mencapai Rp 4 juta, ditambah lagi biaya sumbangan pengembangan institusi (SPI) senilai Rp 12,5 juta. Begitu juga mahasiswa prodi kedokteran gigi yang lulus jalur mandiri per semester Rp 10 juta dan biaya SPI Rp 150 juta.

Kenapa bisa? Kepala Bagian (Kabag) Keuangan Unsyiah Siti Nurhasanah, SE, di ruang kerjanya, Biro Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Selasa (9/8/2017) mengatakan. Besaran biaya kuliah tunggal (UKT) untuk mahasiswa pada program Strata I (S1) jalur mandiri lebih mahal, karena non regular. "SPP sekarang sama seperti tahun 2016, bahkan menurun dari tahun 2015 lalu, SPP kedokteran misalnya, per semester Rp 20 juta, malah sekarang atau tahun 2017, Rp 10 juta sesuai dengan verifikasi yang telah ditetapkan," ujarnya.

Lanjut Kabag Keuangan Unsyiah lagi, sedangkan mahasiswa lulus regular, justru memiliki batasan-batasannya, sesuai dengan verifikasi mahasiswa mengisi biodata diri, namun setiap mahasiswa berbeda-beda pembayaran SPP, karena menurut pendapatan orang tua dari mahasiwa masing-masing. Jadi menurut Kabag Keuangan Unsyiah, yang menjadi perbedaan antara jalur regular dengan jalur mandiri, hanya dari SPI saja. "Kalau jalur regular itu tidak membayar SPI, sedangkan jalur mandiri membayar SPI," sebutnya.

Lantas untuk apa biaya SPI tadi? Jelas Siti, penggunaan uang SPI yang disetor mahasiswa untuk keseluruhannya digunakan bagi pembangunan gedung, fasilitas peralatan ruangan maupun laboratorium (lab), kemudian untuk pembayaran honorer dosen dan untuk pendidikan mahasiswa. Sebut Siti, kebijakan SPP regular, diatur oleh Kemendikti dan harus sesuai dengan jalur penerimaan mahasiswa baru. "Hasil dari rapat-rapat semua, yang ikut serta sesuai dengan aturan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Dan ada batasan-batasan yang telah ditetapkan, tidak seenaknya memutuskan pembayaran SPP itu dengan sendirinya," ujar Siti.

Sementara itu, jalur mandiri adalah jalur terakhir, yang menjadi seleksi mandiri masuk perguruan tinggi negeri (SMM PTN). Biasanya kata Siti, untuk mahasiswa yang tidak lewat jalur regular seperti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan jalur mandiri Unsyiah (JMU), mereka mengambil langkah terakhir yaitu dengan SMM PTN. Diakui Siti, mahasiswa yang mendaftar jalur SMM PTN awalnya memang sempat terkejut melihat uang SPI tadi. Misalnya yang mengambil Prodi Kedokteran Umum, Rp 150 juta. "Itu hanya membayar pembangunan saja, belum lagi biaya kuliahnya per semester Rp 10 juta. Akhirnya, diberikanlah keringganan kepada mahasiswa untuk membayar SPI menjadi dua dan tiga kali, sesuai dengan kebijakan Rektor," sebutnya. Kemudian jelas Siti, yang paling rendah SPI senilai Rp 2 juta.***

Komentar

Loading...