Coreng Dunia Akademisi, Kasus Dwi Hartanto Harus Jadi Pembelajaran

Coreng Dunia Akademisi, Kasus Dwi Hartanto Harus Jadi Pembelajaran
Dwi Hartanto bersama BJ Habibie. (Istimewa)
Penulis
Sumber
Okezone.com

JAKARTA | Nama Dwi Hartanto belakangan ini ramai digunjingkan lantaran kasus penipuan publik atas serentetan prestasi yang dibeberkan di media massa. Pria yang digadang-gadang disebut sebagai The Next Habibie karena memiliki sejumlah prestasi di bidang antariksa ini belakangan mengakui kebohongannya tersebut dan memberikan pernyataan maaf secara resmi yang diunggah di laman PPIDelft.

"Beberapa waktu terakhir ini telah beredar informasi berkaitan dengan diri saya yang tidak benar, baik melalui media massa maupun media sosial. Khususnya perihal kompetensi dan latar belakang saya yang terkait dengan bidang teknologi kedirgantaraan (Aerospace Engineering).

Melalui dokumen ini, saya bermaksud memberikan klarifikasi dan memohon maaf atas informasi-informasi yang tidak benar tersebut," tulis Dwi Hartanto seperti dikutip dari laman ppidelft, Selasa (10/10/2017). Lantas, kasus Dwi Hartanto ini pun menjadi sorotan di lingkup akademisi termasuk Kementerian Riset, Teknologi, dam Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti). Pasalnya, Dwi Hartanto merupakan bagian dari Visiting World Class Professor, sebuah program yang digagas oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti.

"Betul Saudara Dwi bagian dari Visiting World Class Professor tahun 2016. Saat itu, yang bersangkutan mengaku bahwa dirinya merupakan Assistant Professor di TU Delft Belanda dan siap berkolaborasi dengan akademisi dalam negeri," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti melalui siaran pers yang diterima Okezone, baru-baru ini.

Ghufron mengatakan, Visiting World Class Professor sendiri merupakan program yang bertujuan menguatkan riset inovasi dan pengembangan keilmuan. Selain itu, program ini juga dijadikan sebagai jembatan kolaborasi antara ilmuwan Indonesia di luar negeri dengan ilmuwan Indonesia di dalam negeri. Menanggapi kasus penipuan publik yang dilakukan oleh mantan pesertanya, Ghufron mengatakan, kebohongan akademis tidak bisa diterima. Apalagi, kata dia, jika kebohongan akademis itu menyentuh ruang publik.

"Dalam bertindak harus dingat konsekuensi dan tanggung jawab dari tindakan tersebut. Kita seringkali terlalu gampang untuk meminta maaf dan memaafkan suatu kesalahan, namun kita juga seringkali lupa bahwa kita selalu sulit untuk melupakan sebuah kesalahan. Jadi kejadian ini harus menjadi pelajaran bagi Saudara Dwi," ungkap Ghufron.

Terkait kasus Dwi Hartanto, ia juga menyoroti integritas dalam dunia akademisi. Sebab, menurut Ghufron, ini adalah persoalan integritas dalam tubuh akademisi sehingga segera memerlukan solusi, " tuturnya. Ini tantangan, permasalahan akademis, termasuk integritas. Beberapa bulan belakangan ini pun bisa kita dapati contoh atau praktik di perguruan tinggi yang tidak sama sekali mengindahkan integritas. Ini persoalan besar," kata dia.

Untuk itu, lanjut Ghufron, kasus Dwi Hartanto ini menjadi evaluasi bersama. "Kasus saudara Dwi ini menjadi pembelajaran bagi kami agar ke depannya program serupa dapat berjalan dengan lebih baik lagi," tambah Ghufron.

Ia juga mengimbau agar para akademisi dan ilmuwan baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk membantu Dwi memperbaiki diri. "Janganlah kita kemudian menghakimi, tetapi kita arahkan dan berikan kesempatan, jalan karier Dwi masih panjang mari kita tegur, kita ingatkan dan kita bantu ke arah yang baik," imbaunya.

Dwi Hartanto sendiri merupakan mahasiswa S-1 dari Insititut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Teknik Informatika yang lulus pada 15 November 2005. Sebelumnya, ia mengaku lulusan dari Tokyo Institute of Technology, Jepang.

Selanjutnya, Dwi mengambil studi masternya di TU Delft, Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science yang selesai pada 2009. Kini dia tengah menyelesaikan studi S-3 di grup riset Interactive Intelligence di fakultas yang sama. Artinya, status Dwi saat ini adalah mahasiswa doktoral di TU Delft bukan Post-doctoral atau Assistant Professor di TU Delft yang disebut-sebut di media massa.

Dwi Hartanto juga pernah diberitakan oleh media sebagai pemenang dari lomba riset teknologi antar space agency dunia di Jerman pada 2017. Namun, ia mengakui bahwa itu adalah kebohongan belaka dengan memanipulasi template cek hadiah yang diisi oleh namanya sendiri. "Saya memanipulasi template cek hadiah yang kemudian saya isi dengan nama saya disertai nilai nominal EUR 15000, kemudian berfoto dengan cek tersebut. Foto tersebut saya publikasikan melalui akun media sosial saya dengan cerita klaim kemenangan saya," akunya dalam pernyataan tersebut.***

Komentar

Loading...