Pengakuan Anggota DPR dan DPD RI Asal Aceh

Forbes Mati Suri, Perlu Penyegaran dan Prof Bakhtiar Aly Layak Diganti!

Forbes Mati Suri, Perlu Penyegaran dan Prof Bakhtiar Aly Layak Diganti!
dok. MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Anggota DPR RI asal Aceh, M. Nasir Djamil mengaku, sejak terpilih dan dilantik sebagai anggota DPR RI 2014-2019. Forum Bersama (Forbes) anggota DPR dan DPD RI asal Aceh di bawah kepemimpinan Prof Dr. Bahtiar Aly, Tagore Abu Bakar (Sekretaris) serta Ghazali Abbas Adan (Bendahara-DPD), mati suri alias tidak bergerak.

Itu sebabnya, kata politisi PKS ini, berbagai agenda dan kerja-kerja Forbes menjadi terhambat jika tak elok disebut tak jalan. Padahal, banyak agenda yang harus dikerjakan Forbes sebagai jembatan aspirasi rakyat antara Aceh dan Jakarta.

“Sayangnya, Prof Bakhtiar Aly tidak memberikan mandat kerja pada yang lain. Dan menurut saya, dia tidak bisa dan mampu memimpin Forbes. Sepertinya, dia juga kurang peduli dan punya inisiatif dengan keberadaan Forbes. Akibatnya, Forbes mati suri dan perlu segera penyegaran,” tegas Nasir Djamil pada MODUSACEH.CO beberapa waktu lalu.

Kata Nasir Djamil, usai dilantik, mereka duduk dan musyawarah bersama. Saat itu, Zulfan Lidan, anggota DPD RI asal Aceh dari Partai NasDem meminta persetujuan anggota Forbes untuk memilih Prof Bakhtiar sebagai Ketua Forbes. Alasan Zulfan, Bakhtiar Aly adalah guru besar, ahli komunikasi dan telah memiliki  level internasional.

“Saat itu, kami pun mengamininya dan kita coba. Ternyata tidak mumpuni dalam mengelola Forbes. Di tangan Prof Bakhtiar, Forbes sebagai paguyuban tidak mampu menjembati persoalan antara Aceh dengan Jakarta,” ujar Nasir Djamil.

Itu sebabnya ungkap Nasir Djamil, saat ini sedang dibicarakan, apakah Ketua Forbes akan diberikan kepada yang lain atau tetap di tangan Prof Bakhtiar Aly. ”Tidak ada kegiatan sama sekali, termasuk membahas soal isu UUPA. kami selalu menginggatkan dan selalu dijawab; ya dan baik. Tapi, tidak mungkin selalu kami ingatkan sebab dia seorang senior dan guru besar,” sebut Nasir Djamil.

Masih kata Nasir Djamil. “Bukan maksud mengecilkan peran Prof Bakhtiar, sebaiknya dia jadi penasihat saja. Seperti apa Forbes itu menjalankan perannya,” saran mantan anggota DPR Aceh dari Fraksi PKS ini.

Pendapat serupa juga disampaikan anggota DPR RI asal Aceh dari Partai Demokrat, Teuku Reifky Harsya. “Saya kira sudah saatnya butuh penyegaran di tubuh Forbes. Sebab, banyak agenda dan perhatian yang harus diberikan anggota DPR dan DPD RI asal Aceh untuk daerah, terutama dalam mensikapi berbagai perkembangan politik yang terjadi,” usul Ketua Komisi X DPR RI ini.

Diakui Reifky, sejak dipegang Prof Bakhtiar Aly, Forbes nyaris tanpa rapat. Jika pun ada, hanya sekali jalan dan itu tidak memberi efek politik terhadap Aceh di parlemen. Padahal kata Riefky, sebagai wakil rakyat Aceh, mereka memiliki peran, tugas dan fungsi perpanjangan tangan rakyat dan pemerintah Aceh di Jakarta. “Itu sebabnya, selama ini peran dan fungsi itu lebih dimainkan secara personal dan individu,” ujar Riefky.

Kata Riefky, Forbes adalah organisasi paguyuban. Namun, akan sangat strategis dan taktis bila setiap anggota DPR dan DPD RI asal Aceh, satu sikap dan suara saat bicara soal Aceh. “Kita memang berada di parlemen dengan partai berbeda, tapi apa bisa duduk di Senayan kalau rakyat tak percaya dan memilih kita,” ujar Riefky.

Nah, baik Nasir Djamil maupun Teuku Riefky mengaku serta merasakan, akibat tak maksimalnya peran Forbes dalam mensikapi berbagai perkembangan politik, sosial, budaya dan ekonomi serta keamanan di Aceh. Sejumlah elemen rakyat Aceh mencibir dan mengeluarkan berbagai pernyataan, yang seolah-olah wakil rakyat Aceh di Senayan tidak bekerja dan peduli dengan Aceh. “Efeknya menjadi jamak, tidak lagi tunggal. Padahal, setiap orang selalu berpikir dan berbuat untuk Aceh. Karena itu, perlu dilakukan pelurusan. Caranya, mereposisi atau menganti kepemimpinan Forbes,” usul Teuku Riefky.

Sementara itu, anggota DPD RI asal Aceh Fahrurrazi menilai. Harusnya Forbes menjadi kekuatan alternatif bagi anggota parlemen asal Aceh di Jakarta. Sebab, setiap anggota DPR dan DPD RI sebut Fahrurrazi, memiliki peran, fungsi dan kekuatan masing-masing. “Nah, kalau kemampuan dan kekuatan itu dijadikan satu, saya yakin persoalan krusial dengan hilangnya beberapa pasal UUPA dan UU Pemilu yang baru tidak akan terjadi,” katanya.

Sayangnya sebut Razi, begitu dia akrab disapa, Forbes tak berperan maksimal untuk itu. Padahal, organisasi paguyuban ini dipimpin para politisi senior. “Terus terang, hampir tak pernah ada rapat sejak kami terpilih dan dilantik sebagai anggota DPR dan DPD RI,” ungkap Razi. Itu sebabnya, Razi sepakat dengan Teuku Riefky dan Nasir Djamil perlunya penyegaran di tubuh Forbes Aceh. “Ya, mati suri, karena itu perlu dihidupkan kembali,” tegas Razi.

Lantas, apa kata Prof Dr. Bakhtiar Aly? Sejak satu pekan lalu hingga saat ini, MODUSACEH.CO tak tersambung dengan guru besar komunikasi tersebut. Dihubungi melalui telpon seluler tidak aktif. Pesan singkat (SMS) yang dikirim hingga Minggu petang (20/8/2017) juga tak berbalas.***

Komentar

Loading...