Terkait Kutipan 100 Riyal dari Jamaah Haji Aceh di Mekkah

Irwandi Menuding, Jamaluddin Membantah  

Irwandi Menuding, Jamaluddin Membantah  
Humas Pemerintah Aceh
Rubrik

Banda Aceh | Gubernur Aceh Irwandi Yusuf kembali membuat ’gebrakan’. Setelah sempat menuding kedua orang tua Salsa Salbina ‘biadab’ dan punya perilaku seks hewani, kini, bola panas diarahkan pada dugaan adanya dana 100 riyal dari jamaah haji asal Aceh.

Seperti diwartakan Serambinews.com, Gubernur Aceh Irwandi Yusuf menegaskan tindakan petugas mengutip dana dari jamaah haji asal Aceh yang sedang melaksanakan ibadah haji di Mekkah adalah tindakan ilegal. Pengutipan tersebut menurut laporan sejumlah jamaah haji dilakukan atas instruksi gubernur. Informasi tersebut diterima dari orang dekat gubernur kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (24/08/2017).

Bahkan, petugas pengutip tersebut menurut pengakuan Irwandi pernah mendapat SK sebagai penghubung haji di masa gubernur dahulu. Irwandi menyebutkan, setelah ditelusuri kebenarannya, diperoleh kabar dari para jamaah yang sedang melaksanakan ibadah haji bahwa kutipan dana sebesar 100 riyal tiap jamaah tersebut disebut-sebut untuk keperluan pengurusan haji. "Saya tegaskan, itu ilegal. Saya meminta agar para jamaah yang telah menjadi korban supaya melaporkan kepada pihak berwajib di Saudi, agar pelaku dihukum sesuai hukum yang berlaku di sana," tegas Irwandi.

Benarkah tudingan Irwandi itu? Seorang warga Aceh di Mekkah, Jamaluddin Affan, yang disebut-sebut sebagai pelaku pengutipan itu membantah keras. “Minta ke gubernur, mana rekaman telepon dari jamaah yang dengan lancang menulis di koran dan Fb,” tantang Jalaluddin.

Sementara itu, MODUSACEH.CO mendapat kiriman rekaman yang diduga suara Jamaluddin Affan saat memberikan sambutan dan arahan mengenai maksud dan tujuan dari sumbangan ikhlas 100 riyal tersebut. Berikut beberapa penggalan dari rekaman tadi.

Kalau misalnya Bapak dan Ibu mau lihat di era yang sudah modern ini. Dulu, dengan kapal laut berangkat Habib Bugak dengan teman-temannya. Kita sudah naik pesawat cepat sekali hanya delapan jam sudah sampai ke Jeddah.

Dulu, naik kapal laut kemudian memperjuangkan antara hidup dan mati tapi bisa mewakafkan hartanya dan bisa kita nikmati sampai sekarang dan akan datang. Nah, bagaimana ada nggak muncul Habib-Habib Bugak di era modern ini, yang mungkin barangkali mana tahu Ibu dan Bapak, kemarin sudah dapat dari qaru dan qarom, kami tidak memaksa. Ingat budget-nya barangkali setelah ambil 1.200 riyal untuk mewakafkan barangkali 100 atau seberapa ikhlas Bapak dan Ibu. Ini keikhlasan ya untuk apa? Untuk wacana kita akan bikin Badan Wakaf  Jamaah Haji Aceh, bukan Habib Bugak lagi.

 Habib Bugak tetap dia sudah satu, kemudian ada satu lagi kita bikin di Aceh nanti satu badan yaitu Badan Wakaf tapi belum dibentuk. Ibu dan Bapak, ya belum terbentuk tapi kita coba perguna ini tapi seberapa ikhlas Bapak  dan Ibu. Cuman kalau saran dari sana, ini tidak ada dari siapa pun. Ini murni pemikiran kami. Kalau memang ada kemudahan dan keikhlasan, Bapak dan Ibu semuanya coba nanti berpikir, merenung, ini uang sewa apa boleh nggak sewa hotel? Barangkali saya juga akan mau seperti Habib juga disaat nanti suatu saat dikenang oleh anak cucu. Begitu jamaah datang ke sini kita memberi pelayanan, memberi makan kalau tidak ada makan, kemudian memberi pelayanan tawaf dan sa’i kayak kemarin.

Misalnya di sini, Abu Zulfan cuman satu orang. Beliau tidak mungkin mengawal semua satu hotel. Satu mungkin kemudian yang lainnya tidak ada yang bawa tapi kalau ada dana ini, mungkin bisa kita panggil anak-anak mahasiswa atau orang-orang yang belajar di sini untuk mengawal Bapak dan Ibu tawaf dan sa’i sampai pulang ke hotel. Bagi yang tawaf yang tua-tua mungkin kemarin berapa yang tua-tua, berapa bayar per orang 300 riyal. Kalau misalnya 300 ini ada uang wakaf, dari uangnya Bapak dan Ibu sekalian kita subsidi 100 jadi orang tua kita hanya mengeluarkan 200. Nah, inilah pola yang akan kita terapkan nanti kalau misalnya keikhlasan Bapak dan Ibu kalau mau mewakafkan kembali sedikit harta Ibu dan Bapak sebagaimana teman-teman Habib Bugak dulu.

 Tapi, kami tidak paksa, kerelaan kira-kira pertanyaan ada tidak kira-kira keikhlasan Bapak dan Ibu untuk mewakafkan sedikit setelah mengambil dana Habib Bugak nanti. Ada ya, tapi jangan dipaksa ya Bapak yang taruh petugas loket. Jangan memaksa, siapa yang mau memberi silahkan, yang tidak, juga ndak apa-apa. Ingat ya, dan tidak ada dari perintah siapa pun, ingat betul-betul. Tidak ada perintah siapa pun karena rencana kita ini mau bikin suatu Badan Wakaf Jamaah Haji Aceh. Bapak Ibu yang rela nanti tolong serahkan kepada qaru dan qarom, kemudian nanti diserahkan pada ketua kloter. Saya yang akan menerima dan kita akan bawa pulang ke Aceh dan kita muat di koran.

 Misal dapat sekian, ya mohon saya sudah datang, ini tidak ada paksaan kasih seberapa pun. Cuman saran dari saya, kalau memang rela 100 riyal. Oh, jika tidak, ini ada 50 riyal pun tidak apa-apa. Kita sedekah kok ya jangan dipaksa.*

Komentar

Loading...