Dari Sidang Ahok

JPU: Ahok Gunakan Surat Al Maidah sebagai Alat Membohongi di Pilkada!

JPU: Ahok Gunakan Surat Al Maidah sebagai Alat Membohongi di Pilkada!

Jakarta | Hari yang ditunggu itu, akhirnya datang juga. Mulai hari ini hingga adanya putusan, Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terpaksa duduk di kursi terdakwa. Dia dijerat telah  melakukan penodaan agama. Ahok didakwa sengaja menggunakan surat Al Maidah 51 untuk kepentingan proses Pilkada DKI. "Bahwa dengan perkataan terdakwa tersebut seolah-olah Al Maidah 51 telah dipergunakan oleh orang lain untuk membohongi atau membodohi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah, padahal terdakwa sendiri yang mendudukkan atau menempatkan surat Al Maidah 51 sebagai alat atau sarana untuk membohongi dan membodohi dalam proses pemilihan kepala daerah," kata Jaksa Penuntut Umum Ali Mukartono saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara di eks PN Jakpus, Jl Gajah Mada, Jakpus, Selasa (13/12/2016).

Kontributor MODUSACEH.CO dari Jakarta melaporkan. Penyebutan surat Al Maidah disampaikan Ahok saat berkunjung ke tempat pelelangan ikan (TPI) Pulau Pramuka di Pulau Panggang, Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Saat itu Ahok datang dalam rangka panen ikan kerapu . "Bahwa meskipun kunjungan tidak ada hubungannya dengan pelaksaanan pilgub DKI Jakarta akan tetapi oleh karena terdakwa terdaftar sebagai salah satu cagub, maka ketika terdakwa memberikan sambutan dengan sengaja memasukkan kalimat yang berkaitan dengan agenda pemilihan gubernur DKI dengan mengaitkan surat Al Maidah ayat 51," papar Jaksa.  Dalam dakwaan primair Ahok didakwa dengan pasal 156 a huruf a KUHP.

Mendengar dakwaan JPU tadi, Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sempat mengeluarkan air mata. Namun, sikap Ahok ini banyak mendapat tanggapan miring dari publik, melalui media sosial (medsos). Sementara itu, di luar bekas Gdung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Jalan Gadjah Mada, Jakarta, tempat Ahok disidang, ribuan massa, khususnya dari umat Islam dan Front Pembela Islam (FPI) mengelar aksi demontrasi.

Berita terkait: Netizen Ikut Kawal Sidang Perdana Ahok

Saat membacakan pidato pembelaannya, Ahok sempat menceritakan riwayat hidupnya. Dia lahir dari pasangan keluarga non muslim di Belitung Timur Indra Tjahaja Purnama (almarhum) dan Buniarti Ningsing. Dia kemudian diambil menjadi anak angkat keluarga muslim asal Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan, Haji Baso Amir. Haji Baso Amir, kata Ahok, adalah adik kandung dari mantan Panglima Angkatan Bersenjata Indonesia Jenderal (purn) M Jusuf. "Ayah kandung dan ayah angkat saya bersumpah untuk bersaudara sampai akhir hayat," kata Ahok saat membacakan pidato keberatan di bekas gedung Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat, Selasa (13/12/2016).

Kecintaan keluarga Haji Baso Amir, meski hanya sebagai orangtua angkat sangat berbekas di hati Ahok. Meski sebagai anak angkat, Ahok pun ingin membalas kebaikan tersebut. Suara Ahok tertahan saat dia menceritakan kisah dia merawat ibu angkatnya saat sakit hingga ke pemakaman. "Saya seperti anak tidak tahu berterimakasih apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua angkat saya dan beliau adalah pemeluk Islam yang sangat taat,' kata Ahok, kali ini suaranya bergetar. Salah seorang kuasa hukum kemudian memberikan tisu kepada Ahok. "Saya sangat sedih dituduh menista agama Islam, tuduhan itu sama saja saya menista orang tua angkat saya sendiri," kata Ahok.***

Komentar

Loading...