Amankan Putusan Pergantian Pengurus

Nurlif Kian Panik, Minta DPD II Buat Surat Tupe

Nurlif Kian Panik, Minta DPD II Buat Surat Tupe
AceHTrend

Banda Aceh | Pendapat pengamat politik budaya (antropolog) Universitas Negeri Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe, Teuku Kemal Fasya bahwa kepemimpinan Ketua DPD I Partai Golkar Aceh TM Nurlif lemah, sepertinya mulai menunjukkan kenyataan.

Lihatlah, setelah  terbukti berbohong, terkait ada menerima dana Rp 500 juta untuk pemenangan pasangan  calon Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Tarmizi A. Karim-T.Maksalmina Ali dan sudah membuat laporan pertanggungjawaban, padahal tidak. Kini, langkahnya mulai zig zag. Itu dibuktikan dengan melakukan mobilisasi agar Pengurus DPD II Partai Golkar se-Aceh, membuat surat dukungan (surat tupe) terhadap keputusan yang telah dia ambil.

Tujuannya, menyatakan dukungan terhadap keputusan pergantian pengurus DPD I Partai Golkar Aceh yang dinilai banyak pihak tak sesuai aturan organisasi (AD/ART dan PO). “Benar, kami dapat perintah langsung dari Nurlif,” ungkap seorang fungsionaris DPD II Partai Golkar Aceh Tengah. Karena alasan tak etis, pengurus itu minta namanya tak disebutkan. Pengakuan serupa juga diakui Pengurus DPD II Golkar Aceh Utara, Aceh Timur, Kota Langsa serta Aceh Jaya pada media ini, Selasa pagi (16/5/2017). “Betul itu, saya langsung tanda tangan di depan dia, saat Ketua Nurlif berada di Lhokseumawe. Yang sodorkan surat itu TS Sani,” kata Sekretaris DPD II Partai Golkar Aceh Utara, Ridwan Lidan.

Sebelumnya, kader senior Golkar Aceh, Arizan Basyah menilai, kehadiran Nurlif yang sebelumlah diharapkan dapat menjadi perekat, justeru telah melakukan politik pecah belah di internal kader Golkar Aceh. “Salah satu prestasi dia adalah, ada tiga perkara yang sudah masuk ke Mahkamah Partai Golkar. Ini baru pertama terjadi di Aceh,” ungkap Arizan pada media ini.

Pendapat itu disampaikan Arizan kepada MODUSACEH.CO melalui pesan singkat, Selasa (16/5/2017). Dia mengaku terpanggil setelah membaca pemberitaan di media ini. “Sebagai partai besar dan berpengalaman dalam kekuasaan, seharusnya kepemimpinan Golkar Aceh lebih bermartabat, bukan dengan cara-cara kampungan dan otoriter seperti itu,” kata Arizan. Itu sebabnya sebut Arizan, kepulangan Nurlif dari Jakarta untuk memimpin Golkar Aceh, awalnya menaruh harapan besar bagi seluruh kader dan simpatisan partai ini, walau sempat terjadi kasak-kusuk dengan persoalan masa lalunya sebagai terpidana kasus korupsi. “Namun, apa yang dipertontongkan hari ini sungguh memalukan dan mengiris-iris hati kader dan pecinta Golkar di Aceh. Salah satunya saya,” kata mantan Ketua Kadin dan Wantim Golkar Aceh Selatan, yang kini menetap di Jakarta itu.

Di mata Arizan, sifat angkuh, arogan dan sombong yang dimiliki Nurlif belum juga hilang hingga saat ini. Harusnya, kasus yang pernah menimpa dirinya beberapa waktu lalu, bisa membuat Nurlif lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah di tubuh partai. “Dengan cara meminta DPD II untuk membuat surat dukungan atas keputusan keliru yang telah dibuat, justeru semakin membuka fakta bahwa kepemimpinan Nurlif sangat tidak layak untuk dipertahankan. Sangat-sangat memalukan. Ini cara-cara sudah kuno dan kekanak-kanakan,” kata Arizan.

Itu sebabnya, jelang Pileg 2019 mendatang, dia khawatir perolehan kursi DPR RI, DPRA dan DPRK akan berkurang. Indikasi ini terlihat dari sejumlah paslon yang diusung Golkar Aceh kandas pada Pilkada 2017 lalu. “Memang belum terbukti dan perlu waktu, tapi indikasi hasil Pilkada bisa dijadikan acuan. Apalagi status Nurlif sendiri pernah terjerat kasus korupsi. Ini menjadi sisi gelap bagi rakyat untuk memilih dia pada Pileg mendatang,” ujar Arizan.

Di sisi lain,  Arizan menilai, perilaku dan kepemimpinan Nurlif juga sangat dipengaruhi oleh staf di sekitarnya. Artinya, berbagai masukan bisa menjadi positif dan negatif. Namun, karena kepemimpinannya lemah, sehingga dengan mudah terombang ambing dan gamang. “Tapi ya itu tadi, walau hari ini sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, tapi dia tidak cukup pengalaman untuk memimpin. Sepanjang karir yang saya tahu, dia hampir tidak pernah menjadi ketua organisasi besar. Paling Ketua Alumni Universitas Nomensen Medan, selain itu hanya jabatan di posisi sekretaris jenderal. Karena itu wajar leadershipnya kurang mumpuni,” ungkap Arizan.

Nah, terkait surat dukungan tadi, sumber-sumber media ini di DPD II Partai Golkar se-Aceh mengungkapkan. Nurlif meminta surat itu berisi dukungan terhadap dirinya. Lalu, surat tadi dikirim ke DPD I Golkar Aceh dengan tembusan pada DPP Partai Golkar di Jakarta. “Sebenarnya lucu juga, dia kira DPP bisa sebodoh itu. Toh, tetap saja akan terungkap dalam sidang mahkamah partai, apakah kebijakannya itu sudah benar atau salah. Tapi, kami tak mau membantah. Tentu, semua akan menjadi pertimbangan DPP Golkar. Ini memang cara-cara Orde Baru,” sebut sumber tadi, sambil tertawa.***

 

 

 

 

 

Komentar

Loading...