Iklan Kapal Cepat

Perceraian di Kabupaten Simeulue Menurun, Kalangan PNS Meningkat

Perceraian di Kabupaten Simeulue Menurun, Kalangan PNS Meningkat
Norsolicin Panitra Mahkamah Syariah Kabupaten Simeulue
Penulis
Rubrik
Sumber
Reporter Simeulue 02

Simeulue | Tingkat perceraian di kalangan masyarakat Kabupaten Simeulue hingga November 2017 cenderung menurun dari November 2016. Hingga Selasa (14/11/2017), Mahkamah Syariah Kabupaten Simeulue mencatat 186 kasus perceraian, sementara tahun lalu dengan bulan yang sama mencapai 201 kasus.

Norsolihin, Panitra Muda Mahkamah Syariah Kabupaten Simeulue mengatakan, dari 186 kasus yang tercatat 88 kasus merupakan cerai talak, 84 kasus permohonan cerai, dan 14 kasus jinayah. Dari jumlah kasus semuanya 30 persen diantaranya tercatat dari kalangan PNS yang bekerja di Kabupaten Simeulue.

Menurut Norsolihin faktor utama penyebab perceraian ialah ekonomi hingga 70 persen, karena rendahnya pendapatan keuangan masyarakat hingga menimbulkan gesekan dan cek-cok dalam keluarga. "Sebenarnya Penyebab utama perceraian di kabupaten ini disebabkan  kurangnya penghasilan keuangan dalam keluarga itu sendiri, hingga menimbulkan kecek-cokan dalam keluarga dan akhirnya mengajukan perceraian," jelasnya. Sedangkan selebihnya disebabkan faktor perselingkuhan dan kebanyakan kredit keuangan itu terjadi di kalangan PNS.

Norsolicin menambahkan, kasus perceraian tersebut harus mendapat perhatian kusus dari pemerintah kabupaten untuk terus menekan angka perceraian dengan melakukan berbagai macam program. Misal melakukan sosialisasi dan pembinaan kemasyarakat. "Dengan sosialisasi dan pembinaan kemasyarakat secara bertahap saya yakin angka perceraian bisa terus ditekan hingga menurun tiap tahunnya," jelas Norsolicin.

Norsolicin menambahkan dari pihak Mahkamah Syariah juga terus berusaha agar angka perceraian di Kabupaten Simeulue ini terus menurun tiap tahunnya, dengan melakukan dan memberi waktu mediasi selama 40 hari kepada pihak penggugat dan tergugat. "Kami dari mahkamah berupaya agar perceraian  tidak terjadi, dengan memberi tenggat waktu untuk berfikir dan bermediasi antara kedua belah pihak bahkan saat sudah sidang pun kami terus berusaha menanyakan tentang perubahan sikap dari kedua pihak, bila saat sidang ditanya ada perubahan sikap maka sidang perceraian bisa saja dibatalkan," terang Norsolicin.***

Komentar

Loading...