Presidium KAHMI Banda Aceh Muhammad Saleh: Butuh Nyali Besar Melawan Mafia Perusak Lingkungan!

Presidium KAHMI Banda Aceh Muhammad Saleh: Butuh Nyali Besar Melawan Mafia Perusak Lingkungan!
Penulis
Rubrik

Banda Aceh l Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh melalui Bidang HAM dan Lingkungan menyelenggarakan focus group discussion (FGD) yang bertema: Hutan Aceh Untuk Siapa?. Hadir sebagai pemateri empat narasumber yaitu Ketua Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) Agung, Ketua Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Muhammad Daud, dan Ketua Forum Konsultasi Lauser (FKL) Ibnu. Acara itu dibuka Presidium Korps Alumni HMI (Kahmi) Banda Aceh, Muhammad Saleh di Aula Kesbangpol Aceh, Kuta Alam Banda Aceh, Sabtu pagi (12/8/2017).

Ketua Panitia Pelaksana Khalidinul Ihsan mengatakan, diskusi ini sengaja dibuat untuk mengampanyekan lingkungan hidup pada masyarakat, khususnya mahasiswa. Ia juga berjanji akan terus mengangkat isu-isu lingkungan. “Kegiatan itu akan dilaksanakan selama dua hari, dimulai dengan diskusi dan bakti sosial sebagai bentuk tanggung jawab menjaga lingkungan,” kata Khalidinul.

Ketua Umum HMI Cabang Banda Aceh Ambia Dianda menjelaskan, lingkungan hidup merupakan faktor utama kelangsungan hidup manusia. Menurutnya, pengelola lingkungan hidup yang tepat akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Sebaliknya, jika dilakukan eksploitasi besar-besaran, dapat mendatangkan bencana. Ambia juga memaparkan masalah lingkungan hidup terus terjadi dimasyarakat, dari pencemaran, konflik lahan, pencurian kayu dan pertambangan, sehingga menjadi potensial terjadi bencana. Itu sebabnya, diskusi ini dilaksanakan agar mendapat jalan keluar. Sehingga, menjadi satu cara mensosialisasikan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan hidup sebagai wujud pernyataan kecintaan warga akan bumi sebagai tempat tinggal.

Sementara itu, Presidium KAHMI Banda Aceh Muhammad Saleh mengapresiasi diskusi ini. Katanya, di saat isu-isu lain bermunculan, masih ada mahasiswa khususnya kader HMI yang mau berbicara masalah lingkungan. “Menghembuskan isu lingkungan sama seperti melawan kekuasaan dan pemilik modal besar. Karena itu, banyak pihak sangat hati-hati berbicara masalah ini,” kata Muhammad Saleh. 

Menurutnya, berbicara masalah lingkungan harus dari hilir sampai ke hulu dan berlaku hukum kausalitas atau sebab-akibat. Selain itu, adanya praktik simbiosis mutualisme di tataran elit kekuasaan serta aparat penegak hukum. Karena itu, butuh sinergitas antar elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

Terkait kondisi di Aceh, menurut Saleh--begitu dia akrab disapa, kerusakan lingkungan banyak dimainkan oleh kelompok tertentu dengan menerapkan praktik adu domba dengan menjadikan isu agama untuk mengelitimasi praktik tersebut, sehingga muncul sentimen agama. Salah satu contoh, menurut Saleh, apa yang pernah terjadi di Aceh Singkil beberapa waktu lalu. Sementara, kelompok pemodal yang memainkan isu tersebut terus mengambil manfaat.

Sebagai kawasan yang kaya sumber daya alam dan hutan, Aceh tetap dilirik para investor dan mafia sumber energi dan mineral dalam maupun luar negeri. Salah satunya kawasan ekosistem Leuser. Karena itu, isu berkelanjutan yang akan terus dihembus adalah soal penyelamatan hutan dan lingkungan.  Kedua, soal penerapan syariat Islam. Misal soal hukum cambuk. "Jadi, dua isu inilah yang akan berkembang di Aceh untuk beberapa waktu ke depan. Ini akan dimainkan secara nasional maupun internasional. Sementara, persoalan perdamaian, khususnya MoU Helsinki, sudah mulai kurang mendapat perhatian nasional dan internasional karena dinilai sudah selesai," ulas Saleh.

Setali tiga uang, secara nasional isu-isu lingkungan memang sengaja dibenam atau dialihkan dengan isu-isu inteloransi serta radikalisme, sehingga menutup secara masif isu kerusakan lingkungan dan tambang. Inilah permainan sejumlah oknum kekuasaan yang bersinergi dengan pemilik modal dan mafia sumber daya mineral. "Persoalan pembubaran HTI dan radikalisme, sadar atau tidak telah membuat perhatian media pers dan aktivis menjadi lupa dengan isu-isu pokok soal lingkungan hidup dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia. Kita mulai jarang membaca dan mendengar proses saham PT Freeport Indonesia di Papua serta hukuman terhadap pembakar lahan serta penguasaan tanah hak adat dan hulayat, yang kini telah beralih fungsi menjadi lahan atau kawasan perkebunan para pemilik modal," ungkap Saleh yang juga Pimpinan Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, MODUSACEH.CO dan Majalah INSPIRATOR (Kelompok Media).

Itu sebabnya, Saleh berharap, soal lingkungan terus disuarakan, termasuk di kalangan pelajar SMU. Nah, melihat semakin besar dan beratnya kerusakan lingkungan di Aceh. Saleh mengusulkan agar pengetahuan tentang lingkungan dan sumber daya alam, dimasukkan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah SMU. "Bermain di isu lingkungan memang membutuhkan nyali ekstra. Sebab, selain akan berhadapan dengan oknum kekuasaan dan aparat keamanan, juga para pemilik modal. Namun, semua itu jangan menjadi halangan. Sebab, lebih baik melawan satu pemilik modal yang merusak lingkungan daripada alam hancur dan menjadi bencana bagi rakyat banyak," tegas Saleh sambil membuka FGD tersebut.***

 

 

 

 

 

 

  

 

Komentar

Loading...