Tak Memiliki Kelengkapan Dokumen, TNI AL Simeulue Tangkap Kapal Pukat Cicin

Tak Memiliki Kelengkapan Dokumen, TNI AL Simeulue Tangkap Kapal Pukat Cicin
Indra BN/Simuelue
Penulis
Rubrik
Sumber
Laporan Indra BN/Simuelue

Simeulue | TNI AL Simeulue berhasil menangkapkan dan mengamankan kapal nelayan jenis pukat cincin yang beroperasi secara ilegal di perairan laut Simeulue.

Penangkapan tersebut seiring dengan operasi Badan Keamanan laut (BAKAMLA) di wilayah zona barat nusantara.

Komandan Lanal Simeulue Letkol (Mar) Iddha Basri melalui Komandan Kapal (Dankal) Sinabang, Kapten Laut (P) Adi Yudha Nugroho, mengatakan. Penangkapan itu bermula dari laporan nelayan tradisional yang mencurigai adanya aktifitas illegal fishing di sekitar perairan laut Sibigo. Laporan tersebut ditindaklanjuti TNI AL dengan bergerak cepat. Pantauan radarsat terpantau aktifitas yang mencurigakan. Kapal patroli pun merapat dan memeriksa kelengkapan dokumen terkait izin penangkapan ikan kapal jenis pukat itu.

Hasilnya benar saja, dari pemeriksaan  itu diketahui kapal tak memiliki kelengkapan dokumen.

“Saat ini kita amankan satu unit kapal nelayan asal Sawang, Kabupaten  Aceh Selatan lantaran beroperasi tak memiliki kelengkapan izin.  Tak hanya itu tekong juga tak memiliki Surat Kecakapan Kapal (SKK) serta identitas yang jelas. Ditanya namanya,  ia mengaku Charles Asal Sawang, Aceh Selatan,” ujar Dankal saat memberikan keterangan pers di Mako Lanal setempat 17/6/2017.

Kapal pukat 37 GT dengan nama KM Bouginville, panjang 24 meter dan lebar 2,7 meter ini, hasil tangkapan ikannya ditaksir mencapai 350-400 kilogram. Saat ini diamankan di Mako Lanal Simeulue. Barang bukti tersebut diserahkan langsung komandan kapal Sinabang yang diterima PASOP Lanal Simeulue Kapten Laut (P) Richard Martogi Pardede.

Kepada wartawan Dankal menjelaskan, dari aspek hukum aktifitas illegal yang dilakukan kapal Bouginville melanggar UU Nomor 31 tahun 2004, tentang Perikanan dan UU Nomor 45 tahun 2009 Pasal 42 ayat 3 atas perubahan UU nomor 31 tahun 2004 dengan ancaman pidana 1 tahun penjara atau denda Rp 250 juta.

“Guna kepentingan penegakan hukum terpaksa kita menahan sementara tekong dan kepala kamar mesin sedangkan 20 orang ABK lainnya dipulangkan kembali dengan catatan bersedia jika sewaktu waktu diminta hadir untuk memberikan keterangan. Pernyataan ini diperkuat dengan ditanda tanganinya surat penjajian,” jelas Kapten Adi Yudha Nugroho.

Sementara  Charles yang dikonfirmasi media ini mengaku baru pertama kali beroperasi di Pulau Simeulue. Ia tergiur karena hasil laut Simeulue dikenal cukup menjanjikan.

Itu sebabnya kapal berlayar menuju daerah kepulauan ini. Hasil garapan rencananya akan dibawa dan dijual ke Aceh Selatan. Terkait dokumen, pria 20 tahun ini beralasan, kapal yang dibawa kepunyaan orang tua sendiri (ayah tiri), jadi tak menyadari pentingnya surat dokumen berlayar.

"Saya berani membawa kapal karena milik orang tua sendiri, jadi tak terfikir soal dokumen kapal. termasuk izin berlayar lainnya, di Simeulue kami menangkap ikan baru kali ini, karena ikan di laut Dimeulue menjanjikan,  akhirnya sampai di sini,” kata Charles.***

Komentar

Loading...