Terkait Rencana Pemanfaatan Proyek Panas Bumi di TNGL, Gayo Lues.

Wakil Ketua Irwan Djohan Minta Komisi II DPRA Buat Rakor

Wakil Ketua Irwan Djohan Minta Komisi II DPRA Buat Rakor
Wakil Ketua DPRA Teuku Irwan Djohan. Foto MODUS ACEH/Dok.

Banda Aceh | Dalam lembar disposisi, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Teuku Irwan Djohan meminta Komisi II untuk membuat rapat koordinasi (Rakor) atau rapat kerja dengan berbagai pihak, guna mengkaji rencana pemanfaatan panas bumi di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Gayo Lues. Pihak yang diminta undang untuk Rakor itu adalah Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh, Dinas Kehutanan (Dishut), Bapedalda, Balai Besar TNGL, Walhi Aceh, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan hidup dan unsur lain.

Adanya permintaan Irwan Djohan pada Komisi II DPRA untuk membuat Rakor, karena mengingat TNGL adalah kawasan yang dilindungi dan area yang akan dijadikan lokasi proyek Geothermal (Panas Bumi) yang merupakan zona inti dari TNGL yang tidak boleh dimanfaatkan. “Saya minta untuk dibuat Rakor pada Komisi II karena saya menerima surat tembusan dari Kepala Besar TNGL,” kata Teuku Irwan Djohan di ruang kerjanya, kantor DPRA, Banda Aceh, Senin (21/11/2016). Itu sebabnya, kader Partai NasDem itu menerima surat tembusan dari Kepala Balai Besar TNGL Drs. Andi Basrul. Surat Andi Basrul tertanggal 15 November 2016 nomor S. 3190/BBPNGL-2/2016, itu ditujukan pada Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, di Jakarta.

Dalam surat tersebut, Andi Basrul menjelaskan sejak awal rencana pemanfaatan panas bumi di TNGL. Makanya, kata Andi Basrul pada Oktober 2016 TNGL menerima surat dari seluruh kepala Desa se Kabupaten Gayo Lues. Inti surat Kepala Desa tadi, minta kebijakan agar rencana pemanfaatan panas bumi di TNGL dapat dilaksanakan. Kemudian Andi Basrul dalam suratnya tadi melanjutkan, yang menjadi pertimbangan dalam surat tersebut, bahwa sebahagian besar desa-desa di Kabupaten Gayo Lues belum mendapat pasokan listrik, sehingga masyarakat Gayo Lues sangat membutuhkan penerangan listrik seperti daerah lain, tentu untuk kesejahteraan hidup yang lebih baik. Lanjutnya, adapun yang menanda tangani surat permohonan 101 kepala Desa se Kabupaten Gayo Lues.

Pada penjelasan akhir surat Andi Basrul tadi, terkait poin satu sampai dengan tiga, Andi Basrul berharap kiranya permohonan dimaksud dapat dipetimbangkan dalam bentuk perubahan zonasi, dari zona inti menjadi zona pemanfaatan di lokasi yang terdapat potensi pemanfaatan panas bumi di sekitar Gunung Kembar. Sedangkan menurut Irwan Djohan, rencana proyek panas bumi itu akan digarap PT. Hitay Panas Energy dari Turki. Lokasinya di lapangan KAFI, Gayo Lues. Potensinya sekitar 25 Megawatt (MW). Area yang akan dijadikan proyek panas bumi merupakan zona inti. Jika itu zona inti maka tidak boleh dsentuh. “Kalau itu zona inti itu tidak boleh diapa-apakan, harus dibiar alami, harus dibiarkan apa adanya, tidak boleh disentuh zona inti itu,” ujarnya.***

Komentar

Loading...